Wisuda: Membingkai Kenangan

Atas nama kenangan, manusia seringkali membelanjakan sejumlah besar dananya. Padahal, sebaik apapun kenangan itu terbingkai, manusia tidak akan menjadi abadi karenanya. Dan ekstremnya, kenangan itu tidak dibawa mati kan?

Saat ini, hal yang sedang membayangi pikiran saya tentang satu jenis kegiatan "membingkai kenangan"adalah perayaan wisuda.
Sumber gambar: sttmusi.ac.id


Sepenggal Catatan Petang

Catatan kecil nan sepele seperti ini malah mungkin perlu ditulis.

Hujan turun pada senja di awal Mei. Begitu mencekam. Mendung dan petang. Siapa bilang senja itu indah? Atau inikah senja terakhir bagiku? Aku selalu mewaspadai senja, apapun bentuknya: senja yang lembayung atau senja yang murung. Yang jelas, senja selalu berarti hari yang menua. Mengingat ini, aku teringat wanti-wanti Biyung. Segera kurapal doa-doa petang.

__Catatan beberapa petang yang lalu.

Tenggara

Kadang, orang menyembunyikan maksud tertentu dari penyebutan arah. Di Indonesia, konotasi "barat" adalah kemajuan, kehebatan, bebas, kapitalis, sekaligus kebejatan moral. Sedang arti kias untuk "timur" adalah kemiskinan, demokratis, keramahtamahan, dan mistis. "Utara", sebagaimana barat, dapat untuk mewakili kemajuan, kekayaan, kesetaraan, liberalis, dan juga sosialis. Sedangkan selatan adalah kemiskinan, kebodohan, padat penduduk, terbelakang, tetapi pongah. 

Kuseduh Kopi Pagi

Tiap pagi,
ketika kuseduh kopi, pada air yang berpusar tenang itu, tergambar wajah ibu.
Ketika kuhirup aromanya, aku mendengar ibu berkata: sudah kau menanak nasi, anakku?

Kusibak gorden, kubuka jendela
Aku melihat ibu menyiangi rumput di taman inspirasi
Lalu tersenyum menyadari aku memperhatikannya
Tanganmu dingin untuk kesuburan apapun, ibu.

Proposal Hidup


Bismillahirrohmanirrohim

Preambule
Saya, Abdullah Mabruri,  telah mengahabiskan umur selama 21 tahun 3 bulan dan dua puluhan hari. Sepanjang itu, kehidupan telah menempa saya menjadi seperti apa adanya sekarang ini: ada kekuatan dan kelemahan, ada positif dan negatif, ada masa lalu dan harapan.

Meski demikian, saya masih saja kesulitan untuk mengidentifikasi kepribadian saya tanpa bantuan pihak eskternal. Alasannya: untuk berkaca, saya butuh cermin, kan? Dalam hal ini, saya mencoba tes kepribadian pada suatu halaman web. Berikut adalah hasil tes yang saya jalani setelah disesuaikan dengan karakter yang menurut saya benar-benar ada dalam diri.

 
Home | Gallery | Tutorials | Freebies | About Us | Contact Us

Copyright © 2009 Taman Inspirasi |Designed by Templatemo |Converted to blogger by BloggerThemes.Net

Usage Rights

DesignBlog BloggerTheme comes under a Creative Commons License.This template is free of charge to create a personal blog.You can make changes to the templates to suit your needs.But You must keep the footer links Intact.